Mengenal Orang Rimba

Oleh Achmanto Mendatu
-
(Artikel ini adalah bagian dari tulisan panjang tentang Orang Rimba atau lebih dikenal dengan sebutan Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Secara keseluruhan, artikel mengenai Orang Rimba bisa Anda temukan secara terpisah dalam rangkaian situs psikologi online)
-


Orang Rimba atau lazim disebut Suku Anak Dalam adalah sebuah entitas etnik minoritas yang namanya sangat populer dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik kerap menurunkan pemberitaan mengenai etnik tersebut. Namun mungkin dikarenakan keterbatasan ruang maupun waktu, pemberitaan itu sering sepenggal-sepenggal. Hal itu meninggalkan sebuah pertanyaan besar di benak banyak orang. “Seperti apakah sesungguhnya kehidupan mereka?” Naskah ini adalah jawaban bagi pertanyaan itu.

Apa yang diharapkan orang ketika mulai membaca sebuah naskah tentang etnik minoritas? Tipikal, rata-rata orang berharap untuk membaca sebuah eksotisme kehidupan. Sesuatu yang aneh, mencengangkan, langka dan mengejutkan diharapkan ada dalam naskah itu. Semoga naskah ini tidak mengecewakan dari sisi eksotisme. Bagaimanapun sebuah eksotisme dalam arti sesuatu yang sungguh-sungguh berbeda adalah sesuatu yang sangat subjektif. Sesuatu yang eksotik menurut seseorang belum tentu eksotik menurut orang lain. Memuaskan semua orang adalah sesuatu yang sulit. Lebih sulit daripada apapun kata Kahlil Gibran. Lagipula sebuah eksotisme tentang kehidupan tidak bisa dicari-cari layaknya imajinasi. Ia ada jika memang ada. Jadi, akan tinggal tergantung anda apakah anda menangkap sebuah eksotisme atau tidak.

Orang Rimba tersebar diberbagai lokasi berbeda di hutan-hutan Jambi. Mereka terdiri dari kelompok-kelompok berbeda dibawah temenggung atau kepala suku yang berbeda pula. Orang Rimba yang menjadi subjek dalam buku ini adalah Orang Rimba kelompok Makekal Hulu yang dipimpin oleh Temenggung Segrip. Ruang hidup mereka adalah daerah barat Taman Nasional Bukit Duabelas. Apabila tidak menyebutkan nama kelompok lain, berarti yang dimaksud adalah kelompok Makekal Hulu. Lokasi desa terdekat kelompok ini adalah desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.

Orang Rimba adalah masyarakat hutan yang benar-benar tinggal dan hidup didalam keteduhan hutan. Mereka memanfaatkan seluruh ruang hutan bagi kehidupan. Filosofi hidup mereka pun bersumber pada kehidupan hutan. Jumlah mereka sangat sedikit, sekitar 3000 jiwa. Jauh lebih sedikit daripada mahasiswa UGM jogja yang berjumlah sekitar 50 ribu mahasiswa. Jumlahnya hanya setara dengan jumlah dosen UGM. Satu desa di pedesaan pulau jawa saja masih lebih banyak penduduknya. Namun demikian, mereka menikmati kepopuleran nasional dan bahkan internasional.

Kehidupan yang unik dan eksotik adalah sebab kepopuleran mereka. Ditengah derap dunia yang melaju cepat, mereka masih saja terkungkung dalam kehidupan seperti yang dilaksanakan nenek moyang mereka ratusan atau bahkan ribuan tahun yang silam. Mereka berkeyakinan bahwa merubah alam adalah pembangkangan terhadap kehendak Tuhan dan merupakan pelanggaran adat. Namun sebenarnya mereka juga berubah, meski perlahan. Interaksi dengan masyarakat luar hutan dan perubahan lingkungan yang begitu cepat dalam beberapa dekade terakhir memaksa mereka untuk menyesuaikan diri. Orang Rimba saat ini adalah Orang Rimba yang sedang berubah.

Kehidupan Orang Rimba dalam buku ini adalah kehidupan kekinian yang benar-benar dijalani saat ini. Siapakah sebenarnya Orang Rimba, dimana mereka tinggal, bagaimana lingkungan hidup mereka, bagaimana dunia batin mereka, bagaimana penghidupan mereka, bagaimana kehidupan sosial dan gaya hidup mereka, adalah tema-tema yang coba dipaparkan. Selain itu dipaparkan pula mengenai sekolah rimba yang diselenggarakan untuk mereka didalam hutan dan kondisi emosi mereka. Tidak ketinggalan adalah pergulatan Orang Rimba dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat di sekeliling mereka.

Perkenalan dengan Orang Rimba dimulai pada akhir tahun 2003. Saat itu, Johan Weintre, teman dari negeri seberang laut, membawa setumpuk naskah dan data mengenai Orang Rimba yang merupakan hasil perjalanannya ke komunitas Orang Rimba di pedalaman Jambi. Saya kemudian menekuni naskah tersebut. Hasilnya tidak mengejutkan, saya menjadi sangat ingin untuk datang dan melihat langsung serta berinteraksi dengan Orang Rimba.

Sejak saat itu saya mulai memikirkan cara untuk dapat melakukan perjalanan ke Jambi. Beruntung saat itu saya belum menyusun skripsi. Jadi saya bisa pergi ke sana untuk memuaskan keinginan sekaligus sebagai perjalanan skripsi. Setelah proses beberapa minggu mencari tema penelitian, akhirnya saya memutuskan untuk meneliti mengenai emosi. Pada bulan september 2004, proposal saya yang berjudul ‘Emosi Orang Rimba’ disetujui. Bulan berikutnya saya sudah pergi dari Jogja dan memulai perjalanan untuk selama lebih dari setengah tahun. Pada awal November 2004 saya sudah berada di jambi. Dimulai saat itulah saya berinteraksi dengan Orang Rimba sampai dengan awal Mei 2005. Diselingi berbagai vakum interaksi, total sekitar 5 bulan saya benar-benar melakukan interaksi dengan Orang Rimba.

Pengalaman berinteraksi dengan Orang Rimba dan lingkungan sekelilingnya serta disintesakan dengan berbagai literatur mengenai Orang rimba menghasilkan keseluruhan isi naskah ini. Namun demikian naskah ini sesungguhnya hanyalah laporan perjalanan.

Orang Rimba sebagai salah satu etnik minoritas di Indonesia.

Orang Rimba atau lebih dikenal dengan sebutan Suku Anak Dalam merupakan salah satu etnik minoritas di Indonesia. Di keteduhan hutan hujan dataran rendah Sumatera mereka hidup dan mempertahankan tradisi budaya dari nenek moyang yang berpusat pada hutan sebagai sumber filosofinya. Kehidupan mereka relatif tidak banyak berubah dibandingkan dengan kehidupan nenek moyang mereka ratusan tahun silam. Mereka masih berburu, memungut, dan meramu hasil hutan. Saat ini sebagian dari mereka juga telah berladang. Oleh masyarakat luas mereka dikenal sebagai kelompok yang suka berpindah-pindah. Namun tidak seperti yang diduga banyak orang, mereka tidak berpindah secara terus menerus sepanjang waktu. Pada dasarnya mereka menetap. Mereka hanya berpindah apabila terjadi kematian salah satu anggota kelompoknya saja atau bila ada penyakit yang mewabah. Namun karena tingkat kematian yang tinggi, perpindahan sering terjadi. Akibatnya mereka terkesan sebagai kelompok nomaden.

Penggemar film dokumenter tentunya pernah menonton film mengenai kehidupan suku-suku asli rimba. Diantaranya adalah yang hidup di kedalaman hutan hujan amazon di Brazil yang diproduksi oleh National Geographic Society dan Discovery Channel. Filmnya banyak beredar di Indonesia dalam bentuk VCD. Kehidupan Orang Rimba sedikit mirip dengan kehidupan suku-suku tersebut. Beberapa stasiun televisi nasional juga pernah menayangkan film dokumenter mengenai kehidupan Orang Rimba. Meski tentu saja hanya sebagian kecil dimensi kehidupan Orang Rimba yang terekam dan ditayangkan.

Pedalaman Jambi merupakan ruang hidup Orang Rimba. Namun selain menjadi tempat hidup mereka, pedalaman Jambi juga merupakan rumah bagi etnik minoritas lain, yakni Orang Batin Sembilan. Bersama dengan Orang Rimba, Orang Batin Sembilan dikenal masyarakat luas dengan sebutan Orang Kubu. Bahkan tidak hanya itu, wilayah pedalaman Jambi dan bagian pulau sumatera bagian tengah lainnya juga menjadi ruang hidup beberapa etnik minoritas yang berbeda. Disana hidup Orang Sekak, Orang Talang Mamak, Orang Sakai, Orang Lom, Orang Duano, Orang Akit, Orang Bonai dan beberapa lainnya. Mereka hidup tersebar mulai dari kawasan pantai sampai di dekat kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Ruang hidup mereka bervariasi. Ada yang mendiami kawasan hutan di antara sungai-sungai besar, di rawa-rawa pantai, maupun di pulau-pulau lepas pantai.

Jumlah keseluruhan Orang Rimba yang tersebar di seluruh pedalaman Jambi diperkirakan antara 2000 sampai 3000 orang. Jumlah yang sangat kecil ini menegaskan betapa minoritasnya Orang Rimba. Keseluruhan jumlah Orang Rimba hanya setara dengan jumlah penduduk satu desa di pulau Jawa, bahkan mungkin lebih besar jumlah penduduk satu desa di pulau jawa. Bandingkan misalnya dengan jumlah etnis Jawa yang berkisar 90 juta orang atau etnis Dayak yang berjumlah kira-kira 2 juta jiwa.

Selain berjumlah kecil, Orang Rimba merupakan kelompok marginal. Meski tidak sepenuhnya terisolasi, mereka memiliki akses sangat terbatas untuk mengikuti gerak dunia modern. Mereka hampir tidak tersentuh pendidikan formal. Tidak mengherankan apabila mereka tidak memiliki akses kekuasaan di pemerintahan sama sekali. Lantas menjadi tidak aneh apabila Orang Rimba menjadi kelompok yang sangat lemah. Ketika hutan mereka yang kaya kayu dijarah, mereka tidak berdaya. Mereka hanya bisa meratapi hutan yang dihancurkan, yang berarti pertanda bahwa kehidupan mereka terancam.

Pengakuan terhadap eksistensi Orang Rimba secara legal hukum oleh negara belum lama diberikan. Itupun tidak secara langsung. Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas baru mendapat pengakuan sah dari pemerintah melalui surat keputusan penetapan hutan Bukit Duabelas menjadi taman nasional pada tahun 2000. Dalam penetapan itu disebutkan bahwa selain untuk konservasi, taman nasional juga menjadi cagar bagi Orang Rimba agar kehidupan dan penghidupan mereka di dalam hutan terjaga. Taman nasional ditetapkan sebagai perlindungan bagi Orang Rimba.

Manakah yang tepat ; Orang Rimba, Suku Anak Dalam, atau Kubu?

Orang Rimba merupakan salah satu nama. Ada penamaan lain sebagai identitas mereka, seperti Kubu, Orang Dalam, Sanak, dan Suku Anak Dalam. Sejak berabad-abad yang lalu, masyarakat umum mengenal kelompok Orang Rimba sebagai Orang Kubu. Sampai saat inipun, masih banyak anggota masyarakat yang menyebut mereka dengan sebutan kubu. Istilah kubu juga menjadi nama internasional bagi Orang Rimba. Hal ini disebabkan peran para etnographer awal abad ini yang selalu menyebut Orang Rimba sebagai kubu dalam tulisan-tulisannya. Akibatnya melekatlah nama kubu sebagai istilah resmi dalam literatur.

Saat ini kata kubu sangat dekat berasosiasi dengan sesuatu yang berbau primitif, kotor, dan tidak tahu sopan santun. Oleh orang-orang di desa-desa pinggir hutan, kata kubu digunakan untuk kata ejekan. Bila diterangkan tidak mengerti-mengerti akan disebut “memang kubu!” Maksudnya ‘bodoh’. Bila anak-anak disuruh mandi tidak mau, merupakan hal biasa bila orangtua mereka menakut-nakuti “tidak mau mandi, mau jadi Orang Kubu?!” Bila bertindak tidak mengikuti sopan santun menurut ukuran orang desa itu, adalah hal biasa bila diumpat “dasar kubu!”

Kebanyakan Orang Rimba pada saat ini enggan disebut kubu. Bahkan, ada Orang Rimba yang mengatakan pada saya bahwa dirinya sangat marah kalau disebut sebagai kubu. Hal itu mereka anggap sebagai ejekan. Secara konotatif, kubu memang bermakna negatif, yakni bodoh, bau dan jorok. Mereka lebih senang disebut sebagai Orang Rimba. Pada saat berbincang-bincang dengan mereka, untuk menyebut kelompok mereka sendiri, mereka sering mengatakan “kami Orang Rimbo...” Oleh sebab itulah dalam buku ini mereka disebut sebagai Orang Rimba.

Tidak jarang mereka juga menyebut diri mereka sendiri sebagai Orang Dalam. Sebab mereka adalah orang yang tinggal ‘didalam’ hutan sedangkan orang-orang desa dan lainnya tinggal ‘diluar’ hutan. Orang Rimba memiliki kosa kata khusus untuk menyebut orang desa dan semua orang yang bukan Orang Rimba yakni Orang Terang. Mungkin istilah itu berasal dari adanya perbedaan suasana tempat tinggal. Hutan tempat tinggal Orang Rimba selalu teduh karena terlindung oleh pepohonan hutan yang besar-besar dan tinggi. Sedangkan wilayah orang desa dan lainnya selalu terang karena jarangnya pepohonan.

Mula-mula saya menyebut Orang Rimba sebagai Suku Anak Dalam sebagaimana koran-koran dan televisi mempopulerkan demikian. Akan tetapi nyatanya ada Orang Rimba yang tidak tahu dengan istilah itu. Mereka malah balik bertanya, “Suku Anak Dalam tu apo?” Saya sempat kaget, mengapa yang diberi nama malah tidak tahu dengan namanya sendiri.

Suku Anak Dalam merupakan nama yang jauh lebih populer di mata masyarakat Indonesia daripada nama Orang Rimba. Hal itu merupakan peran media massa yang selalu mengekspos mereka dengan sebutan demikian. Pemerintah RI sendiri agaknya menggunakan nama Suku Anak Dalam sebagai istilah resmi. Hal ini terbukti dari penggunaan nama Suku Anak Dalam didalam berbagai dokumen resmi dinas-dinas pemerintahan.

Masyarakat desa di sekitar kawasan tempat tinggal Orang Rimba menyebut Orang Rimba sebagai sanak, yang memiliki arti harfiah ‘saudara’. Pada awalnya panggilan sanak untuk Orang Rimba diberikan oleh orang Minangkabau, namun kemudian seluruh masyarakat di sekitar hutan ikut-ikutan memanggil mereka dengan sebutan sanak. Ketika berbincang-bincang dengan masyarakat desa dan merujuk pada Orang Rimba, sayapun menyebut mereka dengan kata ganti sanak.

Dimana Orang Rimba tinggal?

Orang Rimba secara tradisional hidup di kawasan pulau Sumatera bagian tengah yang tercakup dalam wilayah administratif provinsi Jambi. Mereka tersebar di berbagai lokasi yang berbeda-beda, misalnya di selatan sungai Tembesi, di antara sungai Tembesi dan Merangin, di Taman Nasional Bukit Duabelas, dan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Jumlah keseluruhan Orang Rimba diseluruh lokasi berkisar antara 2000 sampai 3000 jiwa. Populasi Orang Rimba terbesar berada di kawasan Taman nasional Bukit Duabelas. Berdasarkan sensus LSM Warsi pada tahun 2004, jumlah Orang Rimba yang hidup dikawasan Taman Nasional Bukit Duabelas adalah 1316 jiwa. Mereka tercakup dalam 3 kelompok besar, yakni kelompok Makekal, kelompok Kejasung, dan kelompok Air Hitam. Kelompok Makekal, khususnya Makekal Hulu yang tinggal di wilayah selatan-barat daya Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan Orang Rimba yang dibicarakan dalam buku ini.

Kawasan hutan Bukit Duabelas sebagai wilayah ruang hidup Orang Rimba ditetapkan sebagai Taman Nasional oleh pemerintah pada tahun 2000. Luas areal keseluruhan 60.500 hektar. Penetapan itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 258/Kpts-II/2000, tertanggal 23 Agustus 2000. Penetapan tersebut terutama diperuntukkan untuk perlindungan bagi Orang Rimba sebagai indigenous people di kawasan tersebut. Saat ini pengelolaan taman berada di tangan Dinas Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Taman Nasional Bukit Duabelas, lazim disingkat TNBD, terletak diantara 01o45’58” lintang selatan dan 102o03’02” bujur timur. Ketinggiannya berkisar dari 50 sampai 438 diatas permukaan laut. Tingkat kelerengannya antara 2-40%. Didalam kawasan tersebut terdapat beberapa sungai dengan anak-anak sungai yang menyerupai serabut akar tunggang. TNBD merupakan kawasan hutan hujan dataran rendah Sumatera yang masih tersisa dan merupakan daerah tangkapan air untuk daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, dengan Sub DAS Air Hitam Hulu, Sub DAS Kejasung, dan Sub DAS Makekal. Nama Bukit Duabelas diperoleh dari keberadaan duabelas bukit yang membujur dari timur ke barat. Bukit tertinggi adalah bukit Kuran dengan ketinggian 438 dpl.

Secara administratif TNBD tercakup dalam tiga wilayah kabupaten, yakni Sarolangun, Batanghari dan Tebo. Kecamatan yang mencakup wilayah TNBD adalah kecamatan Air Hitam dan Mandiangin (Sarolangun), kecamatan Tebo Ilir (Tebo) dan Maro Sebo Ulu (Batanghari). Untuk memasuki kawasan TNBD, perizinan tidak melalui dinas pemerintahan tetapi melalui pengelola kawasan, yakni dinas BKSDA Jambi.

Apabila berkeinginan memasuki Taman Nasional Bukit Duabelas, perizinan harus diurus di Dinas BKSDA Jambi yang beralamat di Jl. Arief Rahman Hakim No. 10B Lt. 2, Telanai Pura, Jambi, kode pos 36124, atau melalui Seksi Konservasi Wilayah I Bangko, Jl. Jendral Sudirman Km 3, Bangko. Pos terdekat BKSDA dengan kawasan Taman adalah pos BKSDA di desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.


Ruang hidup Orang Rimba

Hutan adalah ruang hidup Orang Rimba. Hutan merupakan rumah, sumber penghidupan dan perlindungan bagi Orang Rimba. Hutan adalah tempat anak-anak rimba tumbuh berkembang menjadi manusia yang arif terhadap alam. Dalam keteduhan pepohonan, Orang Rimba menganyam kehidupan..

Sebagaimana ditulis dimuka, Orang Rimba yang menjadi subjek dalam buku ini adalah Orang Rimba yang tinggal di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Suatu kawasan dimana terdapat konsentrasi Orang Rimba terbesar. Lebih khusus lagi, subjek buku ini adalah Orang Rimba yang berada di kawasan selatan-barat daya Taman Nasional Bukit Duabelas yang dikenal sebagai kelompok Makekal Hulu. Penetapan hutan Bukit Duabelas menjadi Taman Nasional sendiri tidak lain merupakan upaya perlindungan bagi Orang Rimba. Pembentukannya serupa dengan pembentukan berbagai taman nasional yang ditujukan bagi orang Indian di Amerika Serikat.

Taman Nasional Bukit Duabelas (lazim disingkat TNBD) merupakan salah satu hutan ruang hidup Orang Rimba yang terpenting. Disana kondisi hutannya relatif masih memungkinkan kehidupan tradisi budaya Orang Rimba berjalan dengan baik. Sebab hanya hutan yang masih terjagalah yang akan terus dapat menjadi ruang hidup bagi masyarakat rimba. Hutan yang rusak sama artinya dengan kehancuran eksistensi mereka. Rimba sendiri secara harfiah bermakna hutan. Orang Rimba berarti orang yang hidup di dalam hutan. Tidak seperti para petualang atau pencari kayu yang tinggal hanya beberapa waktu di dalam hutan, Orang Rimba hidup di dalam hutan sepanjang hayat. Tidak seperti para petualang yang meskipun tinggal bertahun-tahun lamanya di dalam hutan namun selalu memiliki rumah tempat kembali pulang, hutan adalah rumah Orang Rimba. Mereka telah menjadi bagian ekosistem hutan dimana mereka tinggal. Orang Rimba adalah alam itu sendiri. Dalam konteks TNBD, mereka adalah bagian integral dan tidak terpisahkan dalam ekosistem taman.

TNBD terletak di jantung provinsi Jambi dan merupakan hutan hujan dataran rendah sumatera. Ada sumber menyebutkan bahwa kawasan itu merupakan satu-satunya hutan dataran rendah sumatera yang masih tersisa. Oleh karena itu selain demi peruntukan Orang Rimba, TNBD juga merupakan kawasan konservasi bagi vegetasi dan fauna hutan hujan dataran rendah. Vegetasi hutan Bukit Duabelas sangat kaya. Ratusan jenis pepohonan tumbuh meneduhi tanah. Banyak diantaranya bernilai ekonomis tinggi. Tidak sedikit pula tumbuhan yang berkhasiat obat. Pohon-pohon kayu keras menjulang tinggi membentuk kanopi yang membawa kesejukan bagi siapapun yang berada didalam hutan. Hasil-hasil tetumbuhan hutan mengundang uang datang menghampiri siapapun yang mau mengambilnya.

Hutan di TNBD memiliki kerapatan yang tinggi. Sinar matahari sulit menorobos dedaunan. Oleh karena itu meskipun Orang Rimba tidak memakai baju, mereka tidak kepanasan karena hutan selalu sejuk. Kondisi tanahnya ada yang berbukit-bukit dan ada yang datar. Berjalan di dalam rimba akan sering naik turun bukit sehingga menguras tenaga. Namun bagi Orang Rimba, tidak pernah ada keluhan akan hal itu. Mereka hanya berjalan sedikit melambat ketika mendaki bukit.

Jenis tanah di TNBD umumnya adalah jenis tanah padsolik merah kuning, latosol dan litosol yang terdiri dari bahan induk batuan endapan, batuan beku dan metamorf. Meskipun curah hujan cukup tinggi, sekitar 2000-3000 mm per tahun akan tetapi tanahnya relatif tidak terlalu subur. Ketebalan tanah yang subur sangat tipis. Oleh karena itu sistem pengolahan tanah secara intensif tidak menguntungkan. Tanaman yang ditanam di darat hanya subur pada beberapa penanaman pertama ketika lahan baru dibuka. Apabila sudah lama, tanah akan cepat menjadi tandus. Oleh karena itu biasanya tanah akan dibiarkan ditumbuhi belukar lagi. Setelah beberapa tahun, tanah akan kembali subur.

Sebagai masyarakat hutan, Orang Rimba telah sejak dulu membedakan berbagai area hutan yang memiliki nilai kemanfaatan berbeda. Misalnya ada area yang dinamakan halom bungaron, yaitu kawasan hutan yang masih utuh dan memiliki kerapatan vegetasi yang tinggi. Area ini nyaris tidak dimanfaatkan oleh Orang Rimba. Lalu ada halom balolo dan ranah yang merupakan kawasan dimana Orang Rimba biasa berburu dan mengambil berbagai hasil hutan. Kemudian ada area halom benuaron dan humo yang dimanfaatkan untuk berladang. Bila digunakan analogi konsentris dengan lingkaran-lingkaran, maka halom bungaron adalah lingkaran terdalam, dibagian luarnya adalah halom balolo, dan terluar adalah halom benuaron. Namun kondisinya tentu tidak persis seperti itu. Tempat berladang Orang Rimba tersebar di pinggir dan di dalam kawasan hutan.

Hampir setiap area di dalam hutan diberi nama. Hal itu tentu untuk memudahkan Orang Rimba dalam menentukan letak. Biasanya nama suatu daerah didasarkan pada nama sungai yang mengalir. Namun jangan dibayangkan kita bakal menemukan suatu tanda-tanda fisik bahwa suatu tempat bernama tertentu. Kelompok inti Makekal Hulu misalnya tinggal disuatu kawasan yang bernama Kedondong Mudo. Lalu kelompok-kelompok kecil lainnya tersebar di kawasan yang berbeda-beda dan memiliki nama tersendiri, misalnya Siamang Mati, Air Behan, Sungai Meranti, Sungai Tengkuyung, dan lainnya. Nama tempat kadang juga menjadi identitas mereka. Mereka menjelaskan seseorang sekaligus dengan nama tempat tinggalnya. Misalnya “Nijo, dari air hitam”, “Nalitis, dari siamang mati”, dan lainnya.

Flora Rimba

Flora rimba sangat banyak. Ratusan jenis tumbuhan membentuk vegetasi hutan hujan dataran rendah yang sangat kaya. Berbagai jenis pohon yang bernilai tinggi baik untuk pengobatan, industri maupun makanan banyak terdapat di hutan. Berbagai tumbuhan di dalam hutan dimanfaatkan oleh Orang Rimba baik untuk keperluan mereka sendiri maupun untuk dijual. Mereka menggunakan segala yang ada dihutan secara intensif. Ada pohon yang khusus diambil buahnya untuk dimakan, ada pohon yang diambil getahnya untuk dijual, ada yang diambil daunnya untuk atap, ada yang diambil akarnya untuk tuba, ada yang diambil batangnya untuk rumah dan sebagainya.

Jenis kayu meranti jenis kayu yang paling dincar karena kayunya bernilai ekspor. Ketika belum ada penetapan hutan Bukit Duabelas menjadi TNBD, orang-orang luar sangat aktif mengambil jenis kayu tersebut sampai masuk jauh ke dalam hutan. Saat ini keadaannya relatif aman. Meskipun pencurian dan penjarahan tetap terjadi namun tidak sehebat dulu. Oleh Orang Rimba kulit kayu pohon meranti yang muda dibuat untuk suluh atau penerangan. Getahnya diambil untuk dijual. Selain meranti, pohon getah yang bernilai adalah damar (persis seperti meranti), jelutung, dan balam. Ada juga pohon yang buahnya menghasilkan getah yang bernilai sangat tinggi, yakni pohon jernang. Harga perkilonya bisa mencapai 1 juta.

TNBD merupakan tempat hidup sekurang-kurangnya 10 jenis rotan. Orang Rimba memiliki sebutan masing-masing untuk setiap jenis rotan. Mereka sangat jeli membedakan jenis rotan satu dengan yang lainnya, padahal selintas sangat mirip. Mereka memanfaatkan rotan untuk membuat berbagai kerajinan, tali pengikat, dan juga untuk dijual.

Beberapa pohon buah yang tumbuh di TNBD adalah kedondong, manggis, duku, durian, tampui, petai, cempedak, dan rambutan. Pohon kedondong dikenal juga dengan nama pohon sialang yakni pohon yang disukai lebah madu untuk bersarang. Oleh karena itu pohon kedodong dianggap sebagai pohon buah yang bernilai paling tinggi. Selain tumbuhan buah, tumbuhan lain yang dimanfaatkan untuk makanan adalah berbagai jenis umbi-umbian.

Rimba menyimpan puluhan jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Beberapa diantaranya adalah tumbuhan bedaro putih, pulai, kayu selusuh, pinang, petaling dan petai. Khasiatnya macam-macam dan telah dipergunakan oleh Orang Rimba sejak lama sebagai pengobatan tradisional mereka. Berdasarkan penelitian oleh tim dari fakultas Kehutanan IPB Bogor tentang khasiat-khasiat dari tumbuhan obat Orang Rimba, ternyata TNBD memang menyimpan potensi obat yang sangat luar biasa. Hutan Orang Rimba adalah gudang obat. Tumbuhan pulai berkhasiat sebagai obat demam, tonikum, perut kembung, malaria, penyubur rambut, sakit gigi, dan sesak nafas. Tumbuhan pinang berkhasiat sebagai obat sakit kuning, rheumatik, patah tulang, penurun panas, pemacu enzim pencernaan seluruh badan, dan bisa digunakan untuk menambah nafsu makan. Tumbuhan pasak bumi bisa digunakan untuk memperkecil pupil mata, obat cacing, penyubur kandungan, serta tonikum. Tumbuhan kayu selusuh dijadikan obat antipiretik dan malaria. Tumbuhan petaling berkhasiat mengobati keputihan. Tumbuhan merajakane berkhasiat memperlancar persalinan. Tumbuhan akar kunyit bermanfaat untuk obat demam, pembersih badan, dan sesak nafas. Tumbuhan akar penyegar berkhasiat sebagai obat antivacum, obat kuat, dan penyubur kandungan. Tumbuhan kemenyan hitam digunakan sebagai obat pereda sakit dan obat cacingan. Diluar itu masih banyak lagi tumbuhan yang berkhasiat obat.

Fauna rimba

Fauna yang hidup di TNBD terdiri dari hampir seluruh kelas, mulai dari mamalia, burung, ikan, reptil, amfibia, ikan, serangga, sampai hewan-hewan tidak bertulang belakang lainnya. Jenis faunanya mungkin ribuan. Semuanya membuat hutan tidak terasa lengang. Ada saja suara-suara yang dikeluarkan oleh binatang-binatang itu, mulai dari suara burung yang merdu, suara siamang yang memecah udara sampai bunyi serangga yang membuat berdiri bulu roma.
Beberapa binatang mamalia besar yang hidup di TNBD dan dagingnya dimanfaatkan untk dimakan adalah babi hutan, rusa, kijang, serta tenuk (sejenis tapir). Daging beruang kadang mau juga mereka makan. Akan tetapi sangat jarang diperoleh karena Orang Rimba menghindari beruang. Harimau atau disebut juga merego banyak terdapat didalam hutan. Dagingnya pantang dimakan.

Binatang mamalia kecil yang terdapat di dalam rimba diantaranya kelelawar, landak, tikus, kera, kancil, napui, dan musang. Kelelawar menghuni gua-gua di dalam rimba. Daging kelelawar biasa diambil untuk dimakan. Landak adalah jenis binatang yang memiliki bulu-bulu duri berwarna putih hitam yang sangat keras dan besar. Landak diburu dan dagingnya dijadikan lauk. Kancil serta napui adalah binatang kecil favorit buruan Orang Rimba. Keduanya biasa diperoleh dengan cara menyuluh.

Berbagai jenis burung hidup di dalam rimba. Ada burung enggang, atau sering juga disebut rangkok, Suaranya sangat keras dan menggema ke seantero hutan. Kepalanya memiliki mahkota. Paruhnya berukuran besar. Burung enggang termasuk jenis burung besar. Ada juga burung kuao, dugang, punai, gagak, bangau, kutilang atau balam dan masih banyak lainnya. Menurut cerita Gemambun, Orang Rimba Makekal, di wilayah Kejasung terdapat gua walet. Orang Rimba kelompok Kejasung biasa mengambil sarang walet di gua tersebut. Mereka menjualnya ke orang luar. “Harganya mahal” ungkap gemambun. Dalam rimba ada juga sarang burung yang bernilai tinggi yakni sarang burung cinto kasih. Kabarnya sarang itu berwarna putih dan biasa menempel di kayu. Mungkin yang mereka maksud burung cinto kasih adalah sejenis burung walet. Namun hal itu belum jelas, yang pasti burung cinto kasih memang ada.

Reptil yang hidup di TNBD diantaranya adalah berbagai jenis ular, yang paling banyak adalah jenis ular sawah (ulo sawo dalam bahasa Orang Rimba), selain itu ada ular tedung, ular sampung arit dan lainnya.. Ular sawo banyak diburu. Daging ular dimakan. Kulitnya disamak dan dijual. Sayangnya kini ular sudah semakin jarang. Menurut cerita Selambai, Orang Rimba di Kedondong Mudo, ular sudah tidak ada lagi karena habis diburu. Tapi saya kira maksudnya tidak benar-benar habis hanya saja sudah sangat sedikit. Selain ular, biawak adalah reptil yang paling sering dimanfatkan oleh Orang Rimba. Hewan ini sejenis kadal tetapi berukuran jauh lebih besar. Biawak lebih tepat bila disebut miniatur komodo. Daging biawak diambil untuk dimakan. Kulitnya diambil untuk dijual.

Keluarga kera di dalam rimba terdiri dari beberapa jenis seperti beruk, lemur, kera atau cegak, dan siamang. Beruk berwarna abu-abu dan tidak berekor. Oleh orang desa, beruk biasa dilatih untuk mengambil buah kelapa yang pohonnya tinggi-tinggi. Lemur adalah sejenis kera tapi berukuran mungil. Kera atau sering di sebut cegak adalah jenis yang paling banyak jumlahnya. Warnanya abu-abu. Ekornya panjang. Kadang ada Orang Rimba yang memeliharanya. Siamang adalah jenis kera berwarna hitam legam. Suaranya sangat ramai. Dari jarak beberapa kilometer suaranya bisa terdengar. Mereka bersuara saling bersahut-sahutan dan terus berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Daging keluarga kera tidak dimakan oleh Orang Rimba. Menurut mereka, kera satu keluarga dengan manusia oleh karena itu pantang dimakan.

TNBD menyimpan kekayaan berupa ratusan jenis serangga yang sangat indah seperti beragam jenis kupu-kupu. Bagi kolektor kupu-kupu, saya rasa TNBD adalah tempat yang layak dikunjungi. Disana banyak kupu-kupu yang sangat indah dan itu hanya pernah saya jumpai di sana. Melihat keindahan kupu-kupu dengan bentuk dan warna yang luar biasa selalu membuat fantasi saya melayang ke dunia peri. Orang Rimba menamai kupu-kupu sebagai reramo atau ramo-ramo. Selain kupu-kupu ada juga beragam jenis capung yang sangat indah. Orang Rimba menamainya encang-encang. Jenis serangga lain yang menarik adalah jenis serangga yang mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat keras. Mendengarnya membawa kita seolah-olah berada di dunia lain.

Banyak binatang air yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba. Berbagai jenis ikan, seperti ikan huloton, limbat, ikan tano dan semacamnya dipancing untuk diijadikan lauk. Demikian juga berbagai jenis siput dan katak mereka makan. Labi-labi adalah binatang air sejenis penyu yang sangat terkenal. Lehernya panjang. Labi-labi selebar telapak tangan dengan berat 1 kg akan memiliki leher paling pendek sejengkal atau sekitar 20 cm. Moncongnya mirip penyu kepala babi. Karapak punggungnya tidak keras. Keberadaannya sudah sangat jarang. Orang Rimba biasa mengambilnya dengan cara memancing atau mencari-cari didalam air dengan sejenis tombak yang disebut tiruk. Alat ini sebesar jari tangan yang semakin ke ujung semakin meruncing. Buaya yang menurut cerita juga terdapat di sungai-sungai dalam rimba menjadi mitos tersendiri. Penduduk desa sekitar selalu mengagumi kemampuan Orang Rimba menaklukkan buaya. Mereka berani terjuan ke sungai yang ada buayanya dan dengan tangan kosong menangkap buaya. Apabila ada buaya yang tertangkap, kulitnya diambil dan dijual.

Jalan hitam di dalam rimba

Orang Rimba mengenal hutan dengan isinya sebaik mereka mengenal telapak tangan mereka sendiri. Orang Rimba tidak akan tersesat di hutan mereka. Di dalam rimba ada jalan-jalan setapak yang menjadi jalur lintas utama. Keadaan tersebut persis seperti pulau Sumatera yang memiliki jalur lintas tengah, jalur lintas timur dan jalur lintas barat sebagai jalur jalan utama, atau di pulau jawa yang memiliki jalur pantura dan jalur selatan. Satu tempat dengan tempat lain dihubungkan dengan jalan-jalan yang mudah dikenali. Orang luar yang baru pertama kali masuk rimba dijamin tidak akan tersesat jika jeli mengikuti jalan lintas tersebut.

Menurut cerita yang didapat dari Orang Rimba dan rekan dari LSM Warsi, jalur-jalur jalan di dalam hutan selalu berhubungan dengan jalan-jalan lain yang semuanya bisa menuju keluar hutan. Artinya seseorang bisa masuk rimba dari suatu tempat di daerah timur dan bisa keluar di tempat lain di daerah barat, utara atau selatan. Misalnya seseorang yang masuk rimba dari wilayah desa Bukit Suban (wilayah kabupaten Sarolangun) yang berada disebelah selatan Taman Nasional bisa keluar melalui desa Tanah Garo (wilayah kabupaten Bungo) yang berada di sebelah utara taman.

Mengenali jalan Orang Rimba sangat mudah. Namun demikian jangan dibayangkan jalur jalan di dalam rimba sama seperti jalur jalan di pedesaan yang dibersihkan dari apapun dan diratakan. Jalur jalan didalam rimba hanyalah jalan setapak. Sangat sulit melewati jalan tersebut bila bersisian. Berjalan disana harus beriringan. Lebar jalan paling-paling sekitar setengah sampai satu meter. Jalan di rimba terjadi karena tanah sering dilewati sehingga tidak ditumbuhi tumbuhan karena mati terpijak.

Jangan kaget bila ditengah jalan melintang kayu bulat besar. Tidak tanggung-tanggung, diameter kayu yang melintang bisa lebih dari 1 meter. Kita harus melompatinya jika ingin terus. Kadangkala kayu yang melintang sekalian dijadikan jalan oleh Orang Rimba. Apabila melintasi sungai kecil, Orang Rimba biasanya membuat jembatan dengan merobohkan batang-batang kayu melintangi sungai tersebut. Namun tidak jarang jalan berakhir di pinggir sungai. Artinya kita harus menyeberangi sungai dengan masuk ke air. Di seberang sungai kita akan disambut jalur jalan berikutnya.

Berjalan di dalam rimba

Sebagaimana kita juga, berjalan tidak pernah menjadi perkara yang sulit bagi Orang Rimba. Bagusnya lagi tidak ada orang cacat diantara Orang Rimba sehingga mereka semua bisa berjalan normal, dan cepat. Mereka merupakan pejalan-pejalan yang tangguh. Kecepatan mereka berjalan sangat mengagumkan. Saya pernah mengikuti ritme berjalan Orang Rimba. Waktu itu saya ingin mengetahui seberapa cepat Orang Rimba berjalan. Apabila mereka bertanya sudah lelah apa belum, saya selalu menjawab belum. Hasilnya luar biasa, baru 20 menit berjalan saya sudah kehabisan nafas dan terkapar. Jantung serasa mau meledak. Apabila KONI ingin mencari bibit atlet untuk cabang jalan cepat, Orang Rimba patut dipertimbangkan.

Sejak kecil, Orang Rimba merupakan pejalan kaki. Kemanapun, baik di dalam hutan maupun keluar hutan, Orang Rimba melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Efeknya luar biasa. Mereka tidak ada yang mengalami kegemukan. Tidak ada yang berperut buncit dan leher menggelambir. Perempuan Rimba selalu langsing. Meskipun baru saja melahirkan, tubuh perempuan rimba tidak berubah menjadi kegemukan. Agaknya orang-orang kota perlu mencontoh Orang Rimba agar tidak mengalami obesitas, yakni berjalan kaki kemana-mana.

Orang Rimba pada umumnya memakai sandal ketika berjalan kaki. Namun tampaknya tanpa sandalpun tidak terlalu menjadi soal. Yang dikhawatirkan bila tanpa sandal hanyalah duri yang berpotensi menusuk telapak kaki. Orang Rimba memiliki telapak kaki yang kuat dan keras hasil dari perjalanan bertahun-tahun. Kelemahan telapak kaki mereka hanyalah jalan aspal yang panas dan duri.

Hasil kebiasaan berjalan selama hidup menjadikan Orang Rimba tidak saja pejalan cepat tetapi juga pejalan yang pandai mengatur ritme berjalan. Hanya di tempat-tempat tertentu mereka berhenti. Seolah-olah ada tempat-tempat khusus yang sengaja disiapkan untuk beristirahat di sepanjang jalur jalan. Agaknya mereka enggan berhenti di sembarang tempat, persis seperti kereta api yang hanya berhenti di stasiun. Biasanya tempat berhenti ditandai dengan adanya batang-batang kayu sebesar lengan yang dipakai sebagai tempat duduk.

Apabila kita berjalan di dalam rimba, jangan lupa menyiapkan penangkal pacet penghisap darah, misalnya tembakau. Pacet sangat menyukai darah manusia. Jadi kalau berjalan jangan lupa sering-sering melihat kaki. Tanpa kita sadari, sang pacet boleh jadi telah menguras darah kita. Bayangkan darah hasil makan sehari ternyata hanya dipersembahkan pada pacet. Orang Rimba sendiri biasa terkena pacet, apalagi kita. Bagusnya pacet hanya banyak pada hari-hari lembab, yakni dimana hujan belum lama turun. Bila musim terang, pacet jarang kita temui.

Sungai

Taman nasional Bukit Duabelas adalah daerah tangkapan air untuk sungai Batanghari yang merupakan sungai terbesar di Jambi sekaligus salah satu sungai terbesar di Indonesia. Di dalam kawasan mengalir sub daerah aliran sungai Makekal, Kejasung dan Air Hitam Ulu. Sungai-sungai kecil mengalir ke ketiga sungai tersebut yang kemudian mengalir ke sungai Batanghari. Bentuk aliran sungainya seperti serabut akar.

Di dalam kawasan tempat hidup Orang Rimba Makekal di daerah selatan-barat daya taman nasional tidak ada sungai besar. Sungai-sungainya kecil-kecil, sehingga lebih mirip selokan karena aliran airnya pada umumnya memiliki ukuran terlebar tidak lebih dari 2 meter. Airnya juga sangat dangkal, tidak sampai setinggi lutut. Bila tidak keruh dasar sungai terlihat sangat jelas. Ikan-ikan yang bersliweran di dalam air bisa dilihat seperti melihat ikan di dalam aquarium. Sungai yang cukup besar misalnya sungai Ponti Kayu berukuran lebar sekitar 4 meter. Alirannya mengalir melewati desa Bukit Suban, yang kemudian oleh pemuda desa Bukit Suban, nama sungai itu dijadikan nama perkumpulan karang taruna.

Sungai di dalam rimba adalah sumber air minum bagi Orang Rimba. Mereka meminum air langsung tanpa dimasak dahulu. Oleh karena itu mereka berpantang untuk membuang kotoran ke dalam air. Membuang hajat di air sangat ditabukan. Bila mereka ingin membuang hajat, maka itu dilakukan di darat. Istilahnya adalah bingguk. Untuk membersihkan diri, Orang Rimba menggunakan daun-daunan atau kulit kayu, yang disebut dengan istilah becuka. Ketika berada di dalam rimba. para pengajar Orang Rimba dari LSM KKI Warsi selalu berbekal tisu toilet sebagai alat untuk membersihkan dubur usai buang hajat. Jadi bila ingin masuk hutan Orang Rimba, sedangkan kita tidak mau menggunakan daun atau kulit kayu sebagai pembersih dubur maka bawalah tisu banyak-banyak.

Bahaya Rimba

Orang Rimba sangat mengenal tanda bahaya yang ada didalam hutan. Apabila ada angin kencang mereka tidak akan melakukan perjalanan malam hari karena ancaman kejatuhan cabang-cabang pohon yang runtuh. Demikian juga apabila mereka memilih tempat untuk mendirikan bubung, mereka akan memilih tempat dimana tidak ada cabang-cabang pohon diatas mereka yang memiliki kemungkinan runtuh.

Saya pernah mengikuti Orang Rimba yang membuat bubung untuk rumah sekolah. Dalam jarak sekitar 150 meter, mereka hanya menemukan 2 tempat yang sesuai untuk mendirikan rumah. Kata mereka, “mencari tempat yang tidak kejatuhan kayu kalau ada angin kencang”
Bahaya lain di dalam hutan adalah lintah. Binatang penghisap darah ini cukup ditakuti karena konon kabarnya bisa masuk ke lubang dubur. Kalau sudah begitu sangat sulit untuk di keluarkan. Bebayang, salah satu Orang Rimba bercerita bahwa untuk mengeluarkan lintah, maka perut harus diasapi dan dipanasi. Baru kemudian lintah itu mau keluar. Lintah biasanya hidup di air. Oleh karena itu di dalam rimba mesti berhati-hati bila sedang di dalam air. Sebenarnya ada binatang penghisap darah yang lain yang hidup di darat, yakni pacet. Namun berbeda dengan lintah, pacet tidak dianggap berbahaya. Terkena pacet merupakan hal biasa. Tapi toh meski demikian, setetes darah yang dihisap pacet mungkin merupakan hasil kita makan seminggu.

Beruang adalah binatang mamalia besar yang paling ditakuti. Bertemu beruang bisa berarti petaka. Sudah sering terjadi Orang Rimba terluka karena diserang beruang. Tembuku, seorang anak muda rimba pernah diserang beruang hingga menyebabkan kakinya sobek. Menurut mitologi Orang Rimba, beruang bersama dengan ulo (ular), kalo (kalajengking) dan tikus merupakan binatang yang berasal dari neraka sehingga selalu bermusuhan dengan manusia.

Lingkungan Orang Rimba

Kawasan TNBD dikelilingi sekitar 26 desa yang tercakup dalam 4 kecamatan, dan 3 kabupaten yang berbeda. Ke 26 desa tersebut merupakan penyangga keberadaan taman dan Orang Rimba. Beberapa diantara desa tersebut adalah wilayah pemukiman warga transmigrasi dari pulau jawa, misalnya desa Bukit Suban dan desa Pematang Kabau, selebihnya adalah desa-desa yang dihuni oleh penduduk Melayu Jambi. Mata pencaharian penduduk desa beragam. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Namun ada juga desa yang hampir separuh penduduk desanya merupakan perambah hutan.

Orang Rimba Makekal Hulu tinggal di kawasan selatan-barat daya TNBD. Desa yang paling dekat dengan mereka adalah Bukit Suban. Tidak mengherankan apabila berbagai urusan mereka dengan Pemerintah Daerah dan Dinas Kehutanan melewati pemerintah desa Bukit Suban. Misalnya program pengadaan rumah untuk Orang Rimba dari Dinas Sosial di pinggir taman dilaksanakan melalui pemerintah desa Bukit Suban. Apabila terjadi permasalahan hukum yang melanda mereka, pemerintah desa Bukit Suban pula yang menangani pertama kali.

Masyarakat di sekitar hutan adalah ruang interaksi pertama Orang Rimba. Mereka menjual berbagai hasil hutan di desa-desa sekitar. Demikian juga mereka memperoleh berbagai alat kebutuhan yang tidak dihasilkan di hutan dari desa-desa sekitar. Sayangnya kadang terjadi perselisihan antara Orang Rimba dan penduduk desa. Apalagi biasanya yang merusak hutan adalah penduduk desa sekitar. Untunglah di desa Bukit Suban, citra Orang Rimba Makekal Hulu sangat baik. Mereka dianggap sebagai kelompok Orang Rimba yang baik hati dan ramah.

Disekeliling hutan terdapat perkebunan sawit maupun karet milik penduduk. Tidak jauh dari sana terdapat perkebunan sawit dalam skala luas. Keadaan ini mau tidak mau mempengaruhi Orang Rimba. Banyak Orang Rimba tertarik untuk menanam sawit maupun karet. Saat ini beberapa Orang Rimba telah menanam sawit. Sedangkan menanam karet bahkan telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu.

Penghancuran Rimba

Laman, salah seorang Orang Rimba Makekal Hulu yang bermukim di Siamang Mati, persis dipinggir taman nasional bercerita tentang hutan mereka. “tengoklah hutan itu. Kelihatan garang dimuka, tetapi keropos didalamnya. Ibarat buah kelapa digerogoti tupai. Utuh diluar tapi berlubang-lubang tidak karuan di dalamnya.”

Cerita Laman menggambarkan hasil dari perusakan hutan yang terjadi di dalam kawasan taman. Tingginya nilai ekonomis kayu-kayu di dalam hutan mengundang para penjarah nekat melakukan pencurian kayu di dalam taman. Sejauh beberapa kilometer masuk ke dalam taman, kayu-kayu bagus yang bernilai tinggi telah habis di tebang oleh para pebalok (istilah untuk para pencari kayu). Bebalok (mencari kayu) dilakukan secara terbuka tanpa ada hambatan.

Menurut cerita warga desa Bukit Suban yang menjadi jalur keluar kayu-kayu curian, mula-mula kayu-kayu curian diangkut dengan ditarik kerbau sampai di jalan lintas. Dari pinggir jalan lintas, barulah kayu-kayu tersebut diangkut dengan truk. Namun tidak perlu menunggu lama, jalan-jalan menuju dalam hutan segera dibuat, truk-truk pengangkut kayu mulai hilir mudik setiap hari mengangkat kayu-kayu hutan. Saat ini, sebagai efek dari perubahan status hutan Bukit Duabelas dari cagar biosfer menjadi taman nasional, penebangan secara terbuka di kawasan dekat desa Bukit Suban telah berhenti. Namun demikian masih ada saja orang-orang yang nekat mencuri kayu di dalam taman.

Pemandangan memilukan sering saya lihat. Kebun sawit penduduk desa ditanam menyuruk ke dalam rimba. Kondisinya jadi mirip teluk. Mereka sudah pernah ditentang oleh Orang Rimba akan tetapi Orang Rimba malah dimarahi dan diancam sehingga oleh Orang Rimba dibiarkan saja. Hebatnya mereka tidak saja menanam sawit dihutan yang mereka buka tetapi juga menyuruk didalam semak hutan. Bekinya, salah seorang remaja rimba pernah mengajak saya untuk melihat tanaman sawit penduduk yang ditanam disebalik semak di dalam hutan. Otomatis dimasa depan mereka akan menebang pohon disekitar tanaman tersebut. Itu artinya minimal 100m2 hutan bakal hilang digantikan batang sawit.

Keluhan Orang Rimba mengenai perilaku penduduk desa yang menebangi hutan mereka diungkapkan oleh semua orang. Mulai dari bapak-bapak, anak-anak sampai ibu-ibu. Nijo, Kopiah, Tembuku, Sergi dan banyak yang lainnya yakin bahwa kalau dibiarkan, maka dalam setahun paling kurang 50 meter ke dalam hutan akan dibabat habis. “Orang desa pintar, mereka menebang sedikit demi sedikit, lama kelamaan banyak yang ditebangi” demikian ungkap mereka. Kalau tidak bertindak mereka yakin tidak akan kebagian lahan hutan. Oleh karena itu mereka berniat membuka ladang diantara hutan dan tebangan penduduk desa agar penduduk desa tidak berani menebang hutan disebaliknya. Menurut mereka itulah satu-satunya cara mencegah penebangan lebih lanjut.

Suatu pagi saya bersama Nuju, seorang anak perempuan Rimba, berjalan bersama menuju rumah belajar yang berada tidak jauh di dalam patok taman nasional. Tidak seberapa jauh dari sana ada orang yang sedang menggergaji kayu memakai gergaji mesin. Suaranya meraung-raung menggiriskan. Dengan trenyuh, Nuju berkata pada saya “Hutan lindung kami sedang dihancurkan. Kemana lagi kami hendak berlindung?”

Saya ikut sedih mendengar keluhannya. Nuju benar. Apabila hutan dibabat habis, maka hilang pula rumah Orang Rimba. Tidak akan ada lagi Orang Rimba. Mungkin mereka akan berladang dan berkebun para (karet) seperti umumnya orang kampung. Sesuatu yang memang diharapkan terjadi dalam jangka panjang. Namun, fakta yang ada saat ini adalah mereka kemudian tinggal di kebun-kebun sawit atau karet milik penduduk desa ketika kehilangan hutan.

Kebun sawit jelas bukan hutan rimba yang menyediakan berbagai keperluan Orang Rimba. Di dalam kebun sawit tidak akan ditemui tanaman yang bisa dimakan, tidak ada hasil hutan yang bisa dijual, dan sangat jarang ada binatang buruan yang bisa diperoleh. Begitupun air di dalam kebun-kebun sawit merupakan air-air yang terkontaminasi pupuk. Boleh dibilang, tinggal di kebun sawit bagi Orang Rimba mirip dengan tinggal di kolong-kolong jembatan dan rumah kardus di kota. Kebun karet penduduk umumnya menjadi tempat tinggal yang lebih baik karena air yang kurang terkontaminasi. Biasanya ada juga binatang yang hidup disana.

Apabila melakukan perjalanan dari desa Pematang Kabau sampai ke kota Bangko melalui Muara Delang sejauh kurang lebih 60 km, kita pasti akan menemui minimal satu kelompok Orang Rimba yang tinggal di pinggir jalan, yang berada di dalam kebun sawit atau karet. Tanda-tanda adanya Orang Rimba di sebuah lokasi sangat jelas. Mereka membuat penanda daerah dengan meletakkan kain-kain yang disampirkan di kayu yang dibuat mirip jemuran persis di pinggir jalan. Tanda itu sebagai informasi bahwa tidak jauh dari sana ada kelompok Orang Rimba. Tidak hanya itu, tanda itu juga bermakna peringatan bahwa seseorang harus berhati-hati masuk ke lokasi tersebut karena bila melanggar pantangan tertentu bisa menyebabkan denda dijatuhkan.